简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Yen Menguat, Dolar Melemah
Ikhtisar:Pemicu utama kenaikan harga emas pada perdagangan sebelumnya berasal dari penguatan yen Jepang. Pada tanggal 8, Menteri Keuangan Jepang Katayama Satsuki menegaskan bahwa Jepang akan terus menjaga komu
Pemicu utama kenaikan harga emas pada perdagangan sebelumnya berasal dari penguatan yen Jepang. Pada tanggal 8, Menteri Keuangan Jepang Katayama Satsuki menegaskan bahwa Jepang akan terus menjaga komunikasi erat dengan Menteri Keuangan AS Bessent, dengan tujuan menstabilkan pergerakan dolar AS dan yen. Ia menambahkan bahwa apabila terjadi volatilitas tajam yang tidak sejalan dengan fundamental, otoritas siap mengambil tindakan, yang secara implisit mengisyaratkan kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.
Pergerakan yen pada hari sebelumnya menunjukkan pola naik lalu berbalik turun. Setelah sempat menguat hingga level 157,65, yen mengalami pembalikan arah dan pada sesi Asia hari ini diperdagangkan di sekitar 155,85, dengan tekanan pelemahan yang belum sepenuhnya mereda. Penguatan yen tersebut turut menekan indeks dolar AS yang anjlok hampir 1 persen, sehingga mendorong harga emas kembali menembus level psikologis USD 5.000 per ons.
Saat ini, konsensus pasar terhadap potensi kenaikan lanjutan harga emas bertumpu pada narasi pelemahan mata uang fiat. Penurunan daya beli mata uang fiat dipandang sebagai fondasi utama dari tren kenaikan jangka panjang emas.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Bessent menyatakan bahwa meskipun Kevin Warsh ditunjuk sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, bank sentral AS tidak akan segera mengambil langkah agresif untuk memangkas neraca keuangannya yang melebihi USD 6 triliun. Ia memperkirakan The Fed dapat membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk menentukan arah kebijakan neraca ke depan, serta menekankan bahwa Warsh merupakan sosok dengan tingkat independensi yang tinggi.
Pesan implisit yang ditangkap pasar dari pernyataan tersebut adalah bahwa meskipun Warsh dikenal kritis terhadap kebijakan quantitative easing (QE) dan mendukung pengurangan skala obligasi, perubahan tersebut tidak akan terjadi secara instan. Hal ini mengindikasikan bahwa sekalipun terjadi pergantian kepemimpinan, kebijakan moneter tetap akan memiliki masa transisi, sehingga kecil kemungkinan terjadinya pengetatan likuiditas secara tiba-tiba.

(Grafik 1: Depresiasi mata uang fiat dan penurunan daya beli emas dalam jangka panjang | Sumber: MacroMicro / M平方)
Namun bagi investor, fenomena jangka panjang tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk menjelaskan volatilitas jangka pendek. Menggunakan argumen struktural jangka panjang untuk membaca fluktuasi jangka pendek kerap membuat investor berada pada situasi “benar arah tren, namun gagal bertahan dalam volatilitas”.
Jika analisis difokuskan pada perspektif daya beli riil, kami menilai bahwa revolusi produktivitas yang didorong oleh AI justru lebih mendukung potensi penguatan dolar AS dalam jangka menengah hingga panjang. Selama pertumbuhan GDP riil AS melampaui laju depresiasi mata uang fiat, kondisi tersebut berpotensi menopang kenaikan suku bunga riil dan mengembalikan hubungan kompetitif antara dolar dan emas.
Jika ditelusuri lebih jauh, ketika utang AS mulai mengalami penurunan yang efektif, arah sentimen pasar berpotensi berbalik tajam, dengan kecenderungan kembali memfavoritkan dolar AS dan meninggalkan emas. Hal ini pernah terjadi pada tahun 2011, ketika kebijakan pengurangan QE di era Ben Bernanke memicu tekanan signifikan pada harga emas.
Analisis Teknikal Emas

Dalam jangka pendek, harga emas masih berada dalam fase pengujian ke atas. Bollinger Bands terbuka ke arah atas, menandakan momentum bullish masih dominan, namun perlu dicermati apakah tenaga beli memiliki keberlanjutan.
Pada sesi Asia, harga menghadapi tekanan di area puncak sebelumnya di 5091, dan muncul candlestick bearish sebagai respons penolakan harga. Kondisi ini membuka peluang untuk posisi short jangka sangat pendek. Apabila harga berhasil menembus dan bertahan di atas 5091, maka hal tersebut mengonfirmasi kelanjutan momentum naik, dan posisi dapat dibalik menjadi long setelah stop loss.
Indikator osilasi MACD menunjukkan histogram masih berada di atas garis nol, namun mulai terlihat tanda-tanda penyempitan. Investor perlu mewaspadai risiko pembalikan histogram ke bawah garis nol, yang berpotensi menandakan pelemahan momentum bullish.
Apabila strategi short berjalan efektif dan struktur candlestick harian membentuk pola bullish dan bearish yang sejajar, maka posisi dapat dipertahankan untuk strategi overnight trading.
Peringatan Risiko
Pandangan, analisis, riset, harga, maupun informasi lain yang disampaikan di atas bersifat sebagai komentar pasar umum dan tidak mencerminkan posisi resmi platform ini. Setiap pembaca bertanggung jawab penuh atas risiko yang timbul dari keputusan investasinya sendiri. Harap melakukan transaksi secara bijak dan berhati-hati.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
